Ratu Nilakendra, Sang Mokteng di Majaya

Ratu Nilakendra (1551-1567) adalah raja Pajajaran pengganti Ratu Saksi. Setelah wafat tahun 1567, Nilakendra bergelar Sang Mokteng di Majaya.

Pada saat pemerintahannya, situasi negara sudah tidak menentu; frustasi telah melanda segala lapisan masyarakat, bahkan kelaparan telah berjangkit di Pajajaran.

Carita Parahyangan memberitakan paparan: “Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan” (Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu).

Penganut Tantra?

Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah lagi. Ketegangan yang mencekam dalam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang datang setiap saat, mendorong raja beserta para pembesar istana memperdalam aliran keagamaan Tantra.

Aliran Tantra mengutamakan mantra-mantra yang terus menerus diucapkan sampai kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Seringkali, untuk mempercepat keadaan tidak sadar itu, digunakan minuman keras yang didahului dengan pesta pora makanan serba enak.

Carita Parahyangan menguraikan: “Lawasnya ratu kampa kalayan pangan, tatan agama gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beunghar” (Karena terlalu lama Raja tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan).

Selain itu, Nilakendra malah memperindah keraton, membangun taman dengan jalur-jalur berbatu (dibalay) yang mengapit gerbang larangan. Kemudian ia membangun “rumah keramat” (bale bobot) sebanyak 17 baris yang ditulisi bermacam-macam kisah dengan menggunakan emas.

Kalah Perang, Minggat dari Istana

Mengenai musuh yang harus dihadapinya, sebagai penganut ajaran Tantra yang setia, ia membuat sebuah “bendera keramat” (ngibuda Sanghiyang Panji). Bendera inilah yang diandalkannya untuk menolak musuh.

Namun, bendera ini tak ada gunanya; Pakuan tetap saja berhasil diserang laskar Banten pimpinan Hasanuddin. Hasanuddin yang juga cicit Sri Baduga dari Subang Larang dan di lain pihak masih berhubungan darah dengan penguasa Cirebon, merasa berhak atas takhta Pajajaran.

Pertempuran terjadi di burwan ageung (alun-alun). Carita Parahyangan mengisahkan bahwa dalam pertempuran tersebut gugur dua senapati Sunda, yaitu Tohaan Ratu Sanghyang (bedakan dengan Ratu Sanghyang Surawisesa) dan Tohaan Sarendet.

Akhirnya nasib Nilakendra dikisahkan “alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan” (kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton).

Nilakendra hidup sezaman dengan Panembahan Hasanudin dari Banten.Dari Sajarah Bantendiketahui bahwa serangan ke Pakuan pimpinan Hasanudin melibatkan putranya,Panembahan Yusuf.

Dengan begitu dapatlah disimpulkan, bahwa yang tampil ke depan tempur dalam serangan itu adalah Yusuf. Peristiwa kekalahan Nilakendra ini terjadi ketika Susuhunan Jati masih hidup.

Sang Mokteng Majaya

Nilakendra wafat pada tahun 1567 di pengungsian, dan Fadillah Khan wwafat kemudian, tahun 1570. Setelah meninggal Nilakendra bergelar Sang Mokteng Majaya karena dikebumikan di Majaya. Yang menjadi raja berikutnya adalah Ratu Ragamulya alias Suryakancana.

Sebenarnya, sejak Nilakendra meninggalkan Pakuan, eksistensi politik Pajajaran pun lenyap sudah. Sejak saat itu pula ibukota Pakuan yang ditinggalkan oleh raja, nasibnya dibiarkan berada di tangan penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan. Meski begitu, ternyata Pakuan sanggup bertahan 12 tahun lagi hingga 1579.

Postingan Populer