Tayub Sebagai Aset Pariwisata Kabupaten Blora
Tayub merupakan sebuah seni pertunjukan rakyat yang cukup populer di Kabupaten Blora. Kesenian rakyat ini hampir menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Blora. Agar kesenian rakyat ini tetap eksis dan tidak berkonotasi “negatif“ di masyarakat, maka pemerintah Kabupaten Blora perlu membuat aturan atau lebih tepatnya tata tertib yang harus ditaati oleh para penari tayub.
Di sisi lain, agar kesenian ini tetap hidup di tengah- tengah masyarakat, maka Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas terkait berupaya mengadakan event tahunan di tempat-tempat wisata atau hiburan. Diharapkan dengan adanya event tahunan tersebut kesenian rakyat ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Keberadaan tayub sebagai kesenian rakyat merupakan salah satu peluang yang cukup potensial sebagai daya dukung bagi obyek wisata tertentu yang ada di Kabupaten Blora.
Kabupaten Blora ternyata mempunyai banyak obyek wisata. Namun sangat disayangkan bahwa beberapa obyek wisata yang ada, belum dikembangkan secara optimal. Obyek-obyek wisata yang ada antara lain Wisata Alam, Wisata Budaya, Wisata Ziarah, Wisata Sejarah dan Wisata Buatan (Taryati dkk, 2006: 41-96). Obyek-obyek wisata itu hampir menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Blora.
Sebagai salah satu contoh adalah wisata alam yang terdapat di Kecamatan Kota Blora, yaitu Waduk Tempuran. Pada mulanya di masa kolonial Waduk Tempuran, difungsikan untuk irigasi lahan pertanian dan perikanan, di samping sebagai pemenuhan air bagi warga sekitar. Namun dalam perkembangan selanjutnya, oleh pihak Pemerintah Daerah.
Kabupaten Blora Waduk Tempuran dijadikan sebagai obyek wisata daerah. Sebagai sebuah obyek wisata, sebenarnya waduk ini sangat potensial untuk terus dikembangkan. Namun sangat disayangkan, sarana dan prasarana yang tersedia belum memenuhi persyaratan sebagai tempat wisata, karena belum dikembangkan secara maksimal.
Wisata buatan yang ada di Kabupaten Blora, terdapat di tiga tempat yaitu Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, obyek Wisata Sejarah, dan Loko Tour. Obyek Wisata Sejarah terdapat di Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Obyek wisata itu berada di alam perbukitan sehingga udara yang segar menjadi sebuah potensi yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Obyek wisata ini mulai mendapat perhatian dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Blora sejak tahun 1990 yang diwujudkan melalui pembangunan kolam renang. Dengan memperhatikan kondisi yang ada Wisata Sejarah yang ditawarkan sesungguhnya memiliki potensi yang perlu dikembangkan lagi, antara lain pembangunan villa, taman anggrek atau taman bunga.
Namun, sangat disayangkan obyek wisata itu nampak kumuh dan terbengkalai, sedangkan aset wisata lain berupa Loko Tour telah ditangani secara baik dan profesional. Sehingga wisata Loko Tour ini telah dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Obyek wisata buatan lain adalah Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, yang sudah terkenal sejak tahun 60-an hingga 70-an. Obyek wisata inipun ternyata juga belum ditangani secara maksimal. Padahal obyek wisata ini menempati areal yang cukup luas serta terletak di pusat kota Blora, sehingga akan lebih mudah menarik wisatawan yang berkunjung.
Informasi yang ada ternyata Pemerintah Daerah Kabupaten Blora menaruh perhatian yang cukup besar pada obyek wisata tersebut. Pada tahun 2001, Taman Budaya dan Seni Tirtonadi mulai dibenahi lagi, baik sarana maupun prasarananya. Biaya untuk merehabilitasi obyek wisata ini dianggarkan sekitar 3 milyar rupiah. Direncanakan proyek ini akan digarap selama tiga tahun anggaran:
“……Tahap pertama yaitu pembangunan gerbang utama atau gapura lengkung, panggung terbuka, fasilitas rekreasi anak, penyiapan rekreasi air dan pembangunan sebagian warung. Tahap kedua meliputi pembangunan gerbang selatan yang menyatu dengan RSPD, pembangunan rekreasi air serta pembangunan kandang burung dan kolam renang. Kemudian di akhir tahun anggaran dibangun kolam renang anak, warung-warung untuk menjajakan souvenir dan ruang ganti yang atasnya dilengkapi dengan arena Karaoke.
Pekerjaan yang terberat adalah membuat talud keliling taman yang luas keseluruhannya mencapai hampir 4 (empat) hektar. Dengan demikian maka program pembangunan itu akan memenuhi slogan pariwisata yaitu Sapta Pesona yang berupa Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramah-Tamahan dan Kenangan. (Taryati dkk,2006: 92)
Sesuai dengan namanya yaitu Wisata Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Blora berusaha menghidupkan kembali keberadaan Taman Budaya dan Seni Tirtonadi ini dengan cara menampilkan kesenian rakyat yang berupa tayub.
Kesenian rakyat ini cukup populer di kalangan masyarakat Blora. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora bekerjasama dengan “Mustika Kuning” mencoba untuk menghidupkan kembali Taman Budaya dan Seni Tirtonadi ini dengan jalan menampilkan duapuluh orang seniman penari tayub di seluruh Blora (Taryati dkk,2006: 94). Acara kesenian ini akan diadakan setiap tahun, terutama pada hari- hari besar.
Di daerah mancanegara itu lahir sebuah kesenian yang cukup populer yaitu tarian tayub. Dari berbagai catatan, dahulu tarian tayub sangat populer di wilayah mancanegara atau daerah-daerah yang jauh dari kota besar dan kraton, seperti Pati, Blora, Jepara, Grobogan, Sragen dan Tuban (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pada mulanya tayub merupakan sebuah tarian ritual yang dilangsungkan untuk upacara kesuburan pertanian.
Upacara ini dilangsungkan pada saat mulai panen, dengan harapan pada musim tanam berikutnya hasil panen akan melimpah lagi. (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pendapat itu memang ada benarnya, sebab di masyarakat terpencil pun di Indonesia, setiap pelaksanaan ritual keagamaan maupun ritual adat, selalu menampilkan seni pertunjukan.
Fungsi ritual adat pun sangat bervariasi dan beragam, seperti upacara mensakralkan tanah untuk kesuburan dan kesejahteraan (Soedarsono: 1999: 168).. Selain itu, seni pertunjukan juga selalu ada dalam pelaksanaan upacara bersih desa, Upacara Nyadran, ruwatan dan masih banyak lagi. Salah satu seni pertunjukan rakyat yang berfungsi dalam ritual adalah tayub. Salah seorang penari tayub mengatakan :
“………saya malah pernah disuruh menari tayub di luweng (goa) tempat orang mencari walet. Mereka meminta saya menari dengan alasan agar mereka berhasil memanen walet. Pada bulan Sura saya juga biasa diminta menari di sendang (tempat mata air).
Semuanya demi sebuah ritual kesuburan. (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pada upacara bedah bumi, pengibing atau penjoget yang tampil pertama bersama ledek tayub adalah tetua desa.
Pasangan antara tetua desa dan ledek dalam tarian itu disebut bedah bumi atau membedah bumi. Tarian berpasangan itu juga melambangkan hubungan antara pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah untuk ditanami padi. Dengan kata lain membelah rahim wanita yang dimaksudkan sebagai membelah bumi tadi (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18).
Sampai saat ini ternyata tayub masih sering digunakan untuk upacara-upacara yang bersifat ritual. Namun demikian harus diakui bahwa pada perkembangan selanjutnya gerak tari tayub yang “erotis” itu kemudian berubah menjadi hiburan atau tontonan yang mengasyikkan. Ketika gerak tari tayub berubah sekedar menjadi tontonan, maka tidak berlebihan kiranya jika tayub kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik pariwisata.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa nayub berarti menari-nari dan yang lain mengatakan bahwa nayub berarti menari- nari yang ada kaitannya dengan minum-minuman keras (Yuwono, 1996 : 92). Dikatakan bahwa tayub itu dianggap kasar, rendah dan sepele. Kekasaran yang terdapat di dalam seni tayub itu antara lain :
Sudah barang tentu aturan itu merupakan langkah yang cukup positif dan dimungkinkan akan melahirkan pencitraan baru bagi komunitas seni tayub itu sendiri. Dengan demikian, maka keberadaannya akan tetap terjaga di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, tanpa harus menimbulkan kontroversi.
Selain itu, dapat dikatakan bahwa keberadaan seni tayub ini oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Blora akan tetap terus dijaga eksistensinya, antara lain dengan mengadakan penataran-penataran bagi seluruh komponen yang ada dalam grup kesenian tersebut, baik para pengrawit, penari, penabuh gamelan dan waranggana.
Upaya-upaya itu dilakukan tidak lain untuk meningkatkan mutu dari grup kesenian tersebut, sehingga akan sangat bermanfaat bagi kelangsungan grup tersebut. Diskusi, festival maupun seminar mengenai seni tayub juga terus diselenggarakan yang difasilitasi oleh pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Blora. Kesemuanya itu merupakan keseriusan dari pihak Pemda dalam upaya melestarikan seni tayub.
Salah satu contoh konkritnya adalah festival yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Blora bekerjasama dengan paguyuban seni tayub “Mustika Kuning”. Festival itu mampu menampilkan 21 penari tayub di seluruh Blora (Taryati, dkk., 2006: 71).
Festival yang disebut sebagai Gebyar Tayub Syawalan ini yang pertama kali direncanakan dan akan selalu digelar setiap tahun. Dengan terselenggaranya acara tersebut, diharapkan mampu mengembalikan kejayaan pariwisata di Kabupaten Blora. Di samping itu, penyelenggaan Gebyar Tayub yang diadakan di Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, diharapkan mampu menghidup- kan kembali tempat rekreasi tersebut.
Berdasarkan pemikiran itu, maka diharapkan acara festival atau Gebyar Tayub tidak hanya diselenggarakan di Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, tetapi hendaknya juga diselenggarakan di obyek wisata yang lain. Namun demikian, pembenahan sarana dan prasarana yang ada di setiap obyek wisata pun juga perlu diperhatikan, sehingga dengan adanya suguhan wisata berupa Gebyar Tayub, akan semakin menambah jumlah wisatawan yang berkunjung.
Upaya ini di satu sisi bertujuan untuk menghidupkan obyek wisata yang ada, di sisi lain seni tayub akan semakin disukai oleh masyarakat. Harus diakui bahwa seni tayub itu mampu menjadi daya dukung bagi obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Blora. Bahkan seni tayub telah menjadi ikon bagi Kabupaten Blora, karena para penari tayub dari Kabupaten Blora, telah dikenal hingga di luar daerah Blora. Mereka sering diundang keluar daerah untuk berbagai kepentingan seperti meramaikan pesta-pesta, baik yang berkaitan dengan ritual atau hiburan semata.
Guna meramaikan dan menghidupkan kembali obyek-obyek wisata yang tersebar luas di Kabupaten Blora, kemungkinan dengan menyelenggarakan Gebyar Tayub di setiap obyek wisata, merupakan kiat yang jitu untuk menarik wisatawan. Pelaksanaannya pun bisa diselenggarakan pada hari-hari besar tertentu atau hari-hari libur.
Dengan demikian, masyarakat pun akan semakin mengenal obyek yang dikunjunginya, atau dengan hadirnya Gebyar Tayub di setiap obyek wisata, keinginan wisatawan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata lain yang belum pernah dikunjungi, akan semakin tinggi. Semula, pengunjung yang hanya ingin menyaksikan kesenian tayub, akhirnya tanpa sengaja akan tertarik pula untuk berkeliling di kawasan obyek wisata itu.
Hingga saat ini, seni tayub merupakan kesenian yang masih digemari oleh masyarakat luas. Selain itu tayub boleh dikatakan merupakan sebuah seni pertunjukan yang cukup aktual keberadaannya. Tayub itu tidak hanya disenangi oleh kaum muda saja, tetapi para orang tua pun juga gemar terhadap kesenian ini. Gerakan tarian yang erotis mempunyai daya tarik tersendiri untuk sebuah tontonan seni.
Tayub yang bisa dikatakan sebagai sebuah tari pergaulan, juga melibatkan penonton untuk bersama-sama ikut menari di atas panggung. Dengan demikian suasana akan semakin bertambah ramai dan penonton pun ikut semakin senang. Mudah-mudahan dengan tampilnya seni tayub di sejumlah obyek wisata yang ada di Kabupaten Blora, akan dapat menarik minat pengunjung untuk semakin lebih mengenal, obyek wisata yang dikunjunginya.
Soedarsono, 1999. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Taryati, dkk., 2006. Sejarah dan Budaya Dalam Pengembangan Pariwisata Kabupaten Blora. Yogyakarta: Eja Publisher.
Di sisi lain, agar kesenian ini tetap hidup di tengah- tengah masyarakat, maka Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas terkait berupaya mengadakan event tahunan di tempat-tempat wisata atau hiburan. Diharapkan dengan adanya event tahunan tersebut kesenian rakyat ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Keberadaan tayub sebagai kesenian rakyat merupakan salah satu peluang yang cukup potensial sebagai daya dukung bagi obyek wisata tertentu yang ada di Kabupaten Blora.
Kabupaten Blora ternyata mempunyai banyak obyek wisata. Namun sangat disayangkan bahwa beberapa obyek wisata yang ada, belum dikembangkan secara optimal. Obyek-obyek wisata yang ada antara lain Wisata Alam, Wisata Budaya, Wisata Ziarah, Wisata Sejarah dan Wisata Buatan (Taryati dkk, 2006: 41-96). Obyek-obyek wisata itu hampir menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Blora.
Sebagai salah satu contoh adalah wisata alam yang terdapat di Kecamatan Kota Blora, yaitu Waduk Tempuran. Pada mulanya di masa kolonial Waduk Tempuran, difungsikan untuk irigasi lahan pertanian dan perikanan, di samping sebagai pemenuhan air bagi warga sekitar. Namun dalam perkembangan selanjutnya, oleh pihak Pemerintah Daerah.
Kabupaten Blora Waduk Tempuran dijadikan sebagai obyek wisata daerah. Sebagai sebuah obyek wisata, sebenarnya waduk ini sangat potensial untuk terus dikembangkan. Namun sangat disayangkan, sarana dan prasarana yang tersedia belum memenuhi persyaratan sebagai tempat wisata, karena belum dikembangkan secara maksimal.
Wisata buatan yang ada di Kabupaten Blora, terdapat di tiga tempat yaitu Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, obyek Wisata Sejarah, dan Loko Tour. Obyek Wisata Sejarah terdapat di Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Obyek wisata itu berada di alam perbukitan sehingga udara yang segar menjadi sebuah potensi yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Obyek wisata ini mulai mendapat perhatian dari pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Blora sejak tahun 1990 yang diwujudkan melalui pembangunan kolam renang. Dengan memperhatikan kondisi yang ada Wisata Sejarah yang ditawarkan sesungguhnya memiliki potensi yang perlu dikembangkan lagi, antara lain pembangunan villa, taman anggrek atau taman bunga.
Namun, sangat disayangkan obyek wisata itu nampak kumuh dan terbengkalai, sedangkan aset wisata lain berupa Loko Tour telah ditangani secara baik dan profesional. Sehingga wisata Loko Tour ini telah dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Obyek wisata buatan lain adalah Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, yang sudah terkenal sejak tahun 60-an hingga 70-an. Obyek wisata inipun ternyata juga belum ditangani secara maksimal. Padahal obyek wisata ini menempati areal yang cukup luas serta terletak di pusat kota Blora, sehingga akan lebih mudah menarik wisatawan yang berkunjung.
Informasi yang ada ternyata Pemerintah Daerah Kabupaten Blora menaruh perhatian yang cukup besar pada obyek wisata tersebut. Pada tahun 2001, Taman Budaya dan Seni Tirtonadi mulai dibenahi lagi, baik sarana maupun prasarananya. Biaya untuk merehabilitasi obyek wisata ini dianggarkan sekitar 3 milyar rupiah. Direncanakan proyek ini akan digarap selama tiga tahun anggaran:
“……Tahap pertama yaitu pembangunan gerbang utama atau gapura lengkung, panggung terbuka, fasilitas rekreasi anak, penyiapan rekreasi air dan pembangunan sebagian warung. Tahap kedua meliputi pembangunan gerbang selatan yang menyatu dengan RSPD, pembangunan rekreasi air serta pembangunan kandang burung dan kolam renang. Kemudian di akhir tahun anggaran dibangun kolam renang anak, warung-warung untuk menjajakan souvenir dan ruang ganti yang atasnya dilengkapi dengan arena Karaoke.
Pekerjaan yang terberat adalah membuat talud keliling taman yang luas keseluruhannya mencapai hampir 4 (empat) hektar. Dengan demikian maka program pembangunan itu akan memenuhi slogan pariwisata yaitu Sapta Pesona yang berupa Keamanan, Ketertiban, Kebersihan, Kesejukan, Keindahan, Keramah-Tamahan dan Kenangan. (Taryati dkk,2006: 92)
Sesuai dengan namanya yaitu Wisata Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Blora berusaha menghidupkan kembali keberadaan Taman Budaya dan Seni Tirtonadi ini dengan cara menampilkan kesenian rakyat yang berupa tayub.
Kesenian rakyat ini cukup populer di kalangan masyarakat Blora. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora bekerjasama dengan “Mustika Kuning” mencoba untuk menghidupkan kembali Taman Budaya dan Seni Tirtonadi ini dengan jalan menampilkan duapuluh orang seniman penari tayub di seluruh Blora (Taryati dkk,2006: 94). Acara kesenian ini akan diadakan setiap tahun, terutama pada hari- hari besar.
Tayub
Pada jaman Kerta sampai jaman Kartasura, Kerajaan Mataram terbagi-bagi atas: daerah kuthanegara, daerah negaragung dan daerah pesisiran. Daerah kuthanegara adalah pusat wilayah kerajaan. Di tempat itu tinggal raja beserta keluarganya dan para pejabat tinggi kerajaan mancanegara, suatu daerah yang terletak di luar negaragung. Daerah pesisiran adalah juga daerah yang berada di luar negaragung (Masyhuri, 1977: 85- 86).Di daerah mancanegara itu lahir sebuah kesenian yang cukup populer yaitu tarian tayub. Dari berbagai catatan, dahulu tarian tayub sangat populer di wilayah mancanegara atau daerah-daerah yang jauh dari kota besar dan kraton, seperti Pati, Blora, Jepara, Grobogan, Sragen dan Tuban (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pada mulanya tayub merupakan sebuah tarian ritual yang dilangsungkan untuk upacara kesuburan pertanian.
Upacara ini dilangsungkan pada saat mulai panen, dengan harapan pada musim tanam berikutnya hasil panen akan melimpah lagi. (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pendapat itu memang ada benarnya, sebab di masyarakat terpencil pun di Indonesia, setiap pelaksanaan ritual keagamaan maupun ritual adat, selalu menampilkan seni pertunjukan.
Fungsi ritual adat pun sangat bervariasi dan beragam, seperti upacara mensakralkan tanah untuk kesuburan dan kesejahteraan (Soedarsono: 1999: 168).. Selain itu, seni pertunjukan juga selalu ada dalam pelaksanaan upacara bersih desa, Upacara Nyadran, ruwatan dan masih banyak lagi. Salah satu seni pertunjukan rakyat yang berfungsi dalam ritual adalah tayub. Salah seorang penari tayub mengatakan :
“………saya malah pernah disuruh menari tayub di luweng (goa) tempat orang mencari walet. Mereka meminta saya menari dengan alasan agar mereka berhasil memanen walet. Pada bulan Sura saya juga biasa diminta menari di sendang (tempat mata air).
Semuanya demi sebuah ritual kesuburan. (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18) Pada upacara bedah bumi, pengibing atau penjoget yang tampil pertama bersama ledek tayub adalah tetua desa.
Pasangan antara tetua desa dan ledek dalam tarian itu disebut bedah bumi atau membedah bumi. Tarian berpasangan itu juga melambangkan hubungan antara pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah untuk ditanami padi. Dengan kata lain membelah rahim wanita yang dimaksudkan sebagai membelah bumi tadi (Kompas, Minggu 26 Agustus 2007, hal. 18).
Sampai saat ini ternyata tayub masih sering digunakan untuk upacara-upacara yang bersifat ritual. Namun demikian harus diakui bahwa pada perkembangan selanjutnya gerak tari tayub yang “erotis” itu kemudian berubah menjadi hiburan atau tontonan yang mengasyikkan. Ketika gerak tari tayub berubah sekedar menjadi tontonan, maka tidak berlebihan kiranya jika tayub kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik pariwisata.
Asal-usul Tayub
Beberapa ahli berpendapat bahwa tayub menurut tradisi lisan jika dikiratabasakan atau dijarwodosokan menjadi ditata cikben guyub yang berarti “tarinya diatur secara baik agar menjadi kerukunan orang”. Sedang pendapat lain mengatakan bahwa kata tayub berarti “Kasukan jejogedan nganggo dijogedi tledhek” yang berarti bersuka ria menari bersama penari tledhek.Secara singkat dapat dikatakan bahwa nayub berarti menari-nari dan yang lain mengatakan bahwa nayub berarti menari- nari yang ada kaitannya dengan minum-minuman keras (Yuwono, 1996 : 92). Dikatakan bahwa tayub itu dianggap kasar, rendah dan sepele. Kekasaran yang terdapat di dalam seni tayub itu antara lain :
- Penari laki-laki minum-minuman keras.
- Penari lelaki mencium pipi wanita di depan umum tanpa rasa malu.
- Penari lelaki memasukkan uang ke dalam kemben penari wanita.
- Penari lelaki memangku penari wanita, mungkin karena dalam kondisi mabuk atau pura-pura mabuk, ia menciumi penari wanita, tanpa malu-malu.
- Penari wanita yang memberikan kerlingan mata atau tusukan pandang yang sangat menggairahkan nafsu seks penari lelaki.
- Penari wanita memperlihatkan betisnya sedemikian rupa sehingga memancing hawa nafsu seks penari lelaki atau penonton.
- Adanya perkelahian antara penari lelaki di arena pertunjukan.
- Penari wanita merangkap sebagai wanita tuna susila. (Yuwono, 1996 : 96)
- Membatasi jarak antara penari pria dan wanita.
- Membatasi dan menghilangkan kebiasaan minum-minuman keras.
- Melakukan penataran-penataran khusus pada para pengarih, penari, penabuh gamelan, waranggana dengan materi yang mengarah pada peningkatan mutu dan identitas daerah.
- Mendiskusikan tentang seni tayub (Taryati, dkk., 2006: 71).
Sudah barang tentu aturan itu merupakan langkah yang cukup positif dan dimungkinkan akan melahirkan pencitraan baru bagi komunitas seni tayub itu sendiri. Dengan demikian, maka keberadaannya akan tetap terjaga di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, tanpa harus menimbulkan kontroversi.
Selain itu, dapat dikatakan bahwa keberadaan seni tayub ini oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Blora akan tetap terus dijaga eksistensinya, antara lain dengan mengadakan penataran-penataran bagi seluruh komponen yang ada dalam grup kesenian tersebut, baik para pengrawit, penari, penabuh gamelan dan waranggana.
Upaya-upaya itu dilakukan tidak lain untuk meningkatkan mutu dari grup kesenian tersebut, sehingga akan sangat bermanfaat bagi kelangsungan grup tersebut. Diskusi, festival maupun seminar mengenai seni tayub juga terus diselenggarakan yang difasilitasi oleh pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Blora. Kesemuanya itu merupakan keseriusan dari pihak Pemda dalam upaya melestarikan seni tayub.
Salah satu contoh konkritnya adalah festival yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Blora bekerjasama dengan paguyuban seni tayub “Mustika Kuning”. Festival itu mampu menampilkan 21 penari tayub di seluruh Blora (Taryati, dkk., 2006: 71).
Festival yang disebut sebagai Gebyar Tayub Syawalan ini yang pertama kali direncanakan dan akan selalu digelar setiap tahun. Dengan terselenggaranya acara tersebut, diharapkan mampu mengembalikan kejayaan pariwisata di Kabupaten Blora. Di samping itu, penyelenggaan Gebyar Tayub yang diadakan di Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, diharapkan mampu menghidup- kan kembali tempat rekreasi tersebut.
Berdasarkan pemikiran itu, maka diharapkan acara festival atau Gebyar Tayub tidak hanya diselenggarakan di Taman Budaya dan Seni Tirtonadi, tetapi hendaknya juga diselenggarakan di obyek wisata yang lain. Namun demikian, pembenahan sarana dan prasarana yang ada di setiap obyek wisata pun juga perlu diperhatikan, sehingga dengan adanya suguhan wisata berupa Gebyar Tayub, akan semakin menambah jumlah wisatawan yang berkunjung.
Upaya ini di satu sisi bertujuan untuk menghidupkan obyek wisata yang ada, di sisi lain seni tayub akan semakin disukai oleh masyarakat. Harus diakui bahwa seni tayub itu mampu menjadi daya dukung bagi obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Blora. Bahkan seni tayub telah menjadi ikon bagi Kabupaten Blora, karena para penari tayub dari Kabupaten Blora, telah dikenal hingga di luar daerah Blora. Mereka sering diundang keluar daerah untuk berbagai kepentingan seperti meramaikan pesta-pesta, baik yang berkaitan dengan ritual atau hiburan semata.
Guna meramaikan dan menghidupkan kembali obyek-obyek wisata yang tersebar luas di Kabupaten Blora, kemungkinan dengan menyelenggarakan Gebyar Tayub di setiap obyek wisata, merupakan kiat yang jitu untuk menarik wisatawan. Pelaksanaannya pun bisa diselenggarakan pada hari-hari besar tertentu atau hari-hari libur.
Dengan demikian, masyarakat pun akan semakin mengenal obyek yang dikunjunginya, atau dengan hadirnya Gebyar Tayub di setiap obyek wisata, keinginan wisatawan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata lain yang belum pernah dikunjungi, akan semakin tinggi. Semula, pengunjung yang hanya ingin menyaksikan kesenian tayub, akhirnya tanpa sengaja akan tertarik pula untuk berkeliling di kawasan obyek wisata itu.
Penutup
Sebagai simpulan, maka dapat dikatakan bahwa Kabupaten Blora sesungguhnya mempunyai atau memiliki seni dan budaya daerah yang sangat beranekaragam. Seni dan budaya daerah itu antara lain adalah Barongan, Kentrung, Wayang Krucil dan Tayub. Kesemuanya itu merupakan aset wisata andalan yang dimiliki oleh Kabupaten Blora. Di antara seni budaya daerah yang ada, seni tayub merupakan seni budaya daerah yang sangat terkenal dan populer.Hingga saat ini, seni tayub merupakan kesenian yang masih digemari oleh masyarakat luas. Selain itu tayub boleh dikatakan merupakan sebuah seni pertunjukan yang cukup aktual keberadaannya. Tayub itu tidak hanya disenangi oleh kaum muda saja, tetapi para orang tua pun juga gemar terhadap kesenian ini. Gerakan tarian yang erotis mempunyai daya tarik tersendiri untuk sebuah tontonan seni.
Tayub yang bisa dikatakan sebagai sebuah tari pergaulan, juga melibatkan penonton untuk bersama-sama ikut menari di atas panggung. Dengan demikian suasana akan semakin bertambah ramai dan penonton pun ikut semakin senang. Mudah-mudahan dengan tampilnya seni tayub di sejumlah obyek wisata yang ada di Kabupaten Blora, akan dapat menarik minat pengunjung untuk semakin lebih mengenal, obyek wisata yang dikunjunginya.
Pustaka
Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: IDKD, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Setya Yuwono, 1996. Tradisi dari Blora. Semarang: Citra Almamater.Soedarsono, 1999. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Taryati, dkk., 2006. Sejarah dan Budaya Dalam Pengembangan Pariwisata Kabupaten Blora. Yogyakarta: Eja Publisher.
- Penulis merupakan peneliti di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta. | Sumber Tulisan: Jantra Vol. II, No. 4, Desember 2007