Vesta; Dewi Api dalam Mythology Yunani

Kata Hestia dalam bahasa Yunani berarti “api rumah tangga”. Memang Vesta merupakan dewi api. Sebenarnya pemujaannya sudah sejak jaman purba di Asia, maupun di Yunani. Di Troya pun ia sudah dipuja, dan pahlawan Troya, Aeneas, yang kemudian mengembara dan sampai di Itali, dianggap membawa kultus dewi ini ke Italia.

Di Yunani Vesta dianggap juga sebagai anak Saturnus dan Rhea, saudara kandung Jupiter. Ia disebutkan pada permulaan dan akhir pengorbanan sebelum juga nama dewa lain disebutkan. Api yang dipersembahkan kepadanya tidak pernah dipadamkan.


Menurut cerita kuno, raja mitologi, Nama Pompillius, dari Roma, mendirikan bangunan berbentuk bola bumi untuk dewi Vesta. Di tengah-tengah tempat pemujaan itu dinyalakan api, yang tidak boleh dipadamkan, karena memperlambangkan jaminan untuk kelangsungan berdirinya Negara Romawi. Andaikata api itu padam juga, maka apinya hanya boleh dinyalakan kembali dengan perantaraan sinar matahari, lewat kaca. Tetapi setiap tahun, dalam bulan Maret, api selalu diperbarui.


Di Roma maupun di Yunani dewi Vesta, perawan abadi, hanya diperlambangkan dengan api menyala. Tetapi kadang-kadang ia digambarkan juga sebagai wanita setengah umur berpakaian jubah. Di tangannya ia memegang obor, lampu atau piring pemujaan dengan dua pegangan, yang disebut capeduncula, kadang-kadang juga patung dewi Kemenangan kecil, yang dinamakan palladion.


Pada bangsa Romawi, pendeta yang mengurus api suci Vesta terdiri dari perawan bangsawan yang khusus dipilih. Mereka dinamakan Vestalia atau perawan Vesta. Mereka yang sudah dipilih pada umur enam sampai sepuluh tahun, dan berfungsi dua sampai tiga puluh tahun.


Setelah itu mereka kembali ke keluarganya dan diperbolehkan kawin. Apabila pendeta Vesta itdu sampai membuat api sucinya padam, mereka dihukum berat, acapkali dengan cara bengis. Dan barang siapa tidak bisa menjaga kesucian pribadinya selama berfungsi, dihukum mati, seringkali dikubur hidup-hidup.


Tetapi, sebaliknya, para Perawan Vesta itu dangat dihormati oleh masyarakat. Mereka di perlakukan sebagai pembesar, dan apabila keluar didahului oleh seorang lictor, yaitu pembantu khusus pembesar-pembesar yang bertugas membuka jalan bagi mereka.


Seringkali mereka diundang untuk menyelesaikan perselisihan dalam rumah tangga. Segala macam rahasia, juga rahasia Negara, disimpankan pada mereka. Demikianlah Kaisar Augustus menyerahkan surat wasiatnya kepada mereka untuk disimpan. Setelah Augustus mangkat merekalah yang mengajukan surat wasiat itu kepada Senat Romawi.


Pendeta Vesta memakai ikat kepala berwarna putih yang ujungnya dilepaskan sampai menutupi pundaknya secara luwes. Mereka memakai jubah putih yang sederhana potongannya. Mantel  merah ungu disampirkan menutupi satu pundak. Ketika kemewahan menjadi umum di Roma, mereka bepergian naik tandu atau kereta berhias dengan pengiring dalam jumlah banyak.

Postingan Populer