Cupido atau Amor


Arti yang mula-mula dikandung dalam nama dewa kuno Eros dan Anteros lambat-laun menyempit. Eros akhirnya merupakan istilah yang dipakai untuk pengertian “cinta” sedangkan pengertian Anteros, yang mula-mula menunjukkan “antipathy”, “kebencian” lambat-laun mengisar ke sebaliknya “cinta-yang-membalas-cinta”.

Hal ini dilukiskan dalam dongen yang diceritakan oleh pujangga-pujangga Yunani. Aphrodite (Venus), menurut dongeng ini, mengeluh pada Themis, bahwa anaknya, Eros, tetap berupa anak kecil. Themis menjawab, bahwa Eros baru bisa menjadi besar, apabila Venus melahirkan anak kedua. Anteros lahir. Demikianlah Eros bisa membesar. Cerita ini hendak diartikan, bahwa cinta hanya bisa bertumbuh apabila ada balasan.

Di Roma Cupido adalah lambang nafsu, cinta seksuil, yang pada dasarnya tidak sama dengan pengertian Yunani eros, melainkan dengan kata Yunani lain, himeros. Akan tetapi, dalam mitologi Latin, dewa Cupido sama asal-mulanya dengan dewa Eros anak Venus itu.

Kebanyakan cerita menyebutkan Venus dan Mars sebagai orang tua Cupido. Ketika ia lahir, Jupiter mendapat perasaan waswas mengenai hari depan anak ini, dan ia mendesak supaya Venus membunuhnya. Demikianlah Venus terpaksa menyembunyikan anaknya di hutan-hutan untuk melindunginya terhadap amarah Jupiter.

Seketika Cupido dapat mengarahkan panah dan busur, ia melakukan dengan hewan di hutan apa yang kemudian dilakukannya dengan manusia, ia menyerangnya dengan panah yang akan menimbulkan nafsu padanya.

Cupido biasanya digambarkan sebagai anak kecil, berumur tidak lebih dari tujuh-delapan tahun. Matanya mencerminkan kesenangan hidup tanpa pikiran, dan juga kejenakaan. Ia membawa busur dan kotak panah berisi panah yang panas. Kadang-kadang ia digambarkan juga sambil membawa obor, topi perang atau tombak. Mahkota bunga mawar yang sering dipakainya juga ialah lambing kesenangan.

Acapkali ia digambarkan buta atau dengan mata tertutup kain (“cinta ialah buta”) dan memakai sayap yang berwarna biru langit, merah ungu atau pun emas. Ia menampakkan diri di angkasa, di dalam api, di bumi dan di laut.

Kadang-kadang ia digambarkan duduk dalam kereta, memainkan lira atau menaiki singa, macan tutul dan ikan lumba-lumba. Ia juga digambarkan bersama ibunya, yang main dengan dia atau menciumnya.

Kadang-kadang ia juga digambarkan beridir antara Hercules dan Mercurius untuk memperlambangkan pentingnya keberanian dan kefasihan bicara dalam masalah cinta. Ataupun bersama dewi fortuna (keuntungan) yang juga tertutup dengan kain matanya.

Antara binatang-binatang yang disayanginya ialah ayam jantan dan angsa, yang merupakan binatang kesayangan ibunya juga. Sering ia digambarkan memakai sayap burung alap-alap sebagai lambing kebengisannya.

Apabila ia digambarkan sebagai prajurit memakai topi perang dan bersenjatakan tombak dan perisai, lagaknya angkuh dan berani, sebagai tanda, bahwa Cinta selalu menang. Dewa Perang pun dikalahkan oleh cinta.

Cupido menaruh rasa yang dalam dan hangat terhadap anak mansuia, Psyche, seorang putrid yang kecantikannya menggairahkan. Ia mengharapkan dapat mengawininya. Namun Venus sangan menentang perkawinan semacam itu, dan Psyche selalu dicacimakinya.

Akhirnya Cupido bosan dengan campurtangan ibunya. Ia mengadu kepada Jupiter. Psyche yang merupakan anak manusia diperintahkan supaya diculik oleh Mercurius. Ia diberi makan ambrosia dan minum nectar, yang manjadikannya mendapat kekekalan hisup. Semua dewa diundang pada perkawinan itu. Venus, malahan, yang tidak dapat menentang lagi, ikut dalam keramaiannya dengan menari. Psyche mendapat anak wanita yang diberi nama Voluptas, Kesenangan.

Postingan Populer